بسم الله الرحمن الرحيم

Memilih PEMIMPIN

Pilih pemimpin lihatlah dari : agamanya, budi pekertinya dan apakah ada niatan terselubung setelah jadi pemimpin (ini yang terpenting..!), ya mbok care sedikitlah dalam memilih, lihat tuntunan Al-Qur'an & Hadist... hati-hati mas/mbak/kang/neng dalam memilih pemimpin karena akan berakibat langsung/tidak langsung pada kehidupan kita didunia maupun di akhirat kelak... Jangan tergoda kenikmatan duniawi yang disodorkan / ditawarkan (iming-iming agar dapat jadi pemimpin) oleh calon pemimpin, Setelah menjadi pemimpin, maka niatan terselubung akan dijalankan , sehingga akan merugikan kita dan anak cucu kelak diakhirat... Keputusan anda dalam memilih pemimpin yang sesuai dengan Islam adalah merupakan jihad karena membela agama Islam.

Alloh menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Alloh). (QS 2:269)

Manusia diberikan kebebasan selama menjalani hidup didunia dimana kebebasan tersebut akan dimintai pertanggung jawaban nanti di akhirat
Cukuplah Dengan Kematian Itu Suatu Pelajaran (Al Hadist)

Ilmu merupakan perbendaharaan, kuncinya adalah bertanya, karena itu bertanyalah kalian, semoga Alloh melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian. Sehubungan dengan masalah ini ada empat orang yang diberi pahala, yaitu : orang yang bertanya, orang yang mengajarkan ilmu, orang yang mendengarkan ilmu dan orang yang mencintai ketiganya (HR Abu Na’im melalui Ali K.V)

Tampilkan postingan dengan label 05. Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 05. Mualaf. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Januari 2009

ISLAMNYA SEORANG DOKTER NASRANI DERMAWAN

Diriwayatkan, bahwa sebagian ulama sufi suatu ketika pernah keluar bersama kaumnya. Mereka berjumlah empat puluh orang dan telah bermukim selama tiga hari dan selama itu pula tidak pernah menelan sebutir nasi pun.

Ulama sufi itu kemudian berkata kepada sahabat-sahabatnya, "Kaumku, sesungguhnya Allah telah membolehkan mencari perantara kepada sesama hamba Allah. Allah swt. telah berfirman, '... maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. ' (Q.s. Al-Mulk: 15). Sekarang coba perhatikan, mungkin ada orang yang lewat dan dia membawakan sesuatu untuk kita!' Kemudian keluarlah salah seorang fakir dari kaum mereka itu berjalan di pinggiran kota Baghdad. Akan tetapi, dia tidak menjumpai seorang pun yang dapat dimintai sesuatu, bahkan hingga kelaparan dan lelah menghimpitnya.

Untuk mengurangi kelelahannya, ia duduk di teras toko obat milik seorang dokter Nasrani yang pembelinya cukup banyak. Kepada si fakir tersebut dokter itu bertanya, 'Apa yang sedang kamu lakukan?' Si pemuda fakir itu tidak menjelaskan sedikit pun masalah yang sedang dihadapinya, tetapi justru menjulurkan tangannya kepada dokter tersebut. Dokter Nasrani itu lalu meraba tangannya dan berkata, 'Ini adalah suatu penyakit dan aku tahu obatnya. Hai anak muda, pergilah ke pasar dan belikan aku satu kati roti, daging dan buah-buahan yang manis!'

'Sebenarnya tidak hanya aku sendiri yang menderita penyakit semacam ini, masih ada lagi teman-temanku lainnya. Kaum kami yang terdiri empatpuluh orang juga menderita penyakit yang sama,' kata pemuda fakir itu.

'Jika demikian, tolong belikan untukku empat puluh kali lipat!' kata sang dokter kepada pemuda fakir itu. Pemuda itu pun membeli semua bahan makanan sebagaimana pesan dokter tersebut, selanjutnya sang dokter menyerahkan semua bahan makanan kepadanya.

'Bawalah semua itu untuk orang-orang yang kamu sebutkan tadi!' Demikianlah, dengan dibantu beberapa orang, pemuda fakir itu kembali menemui kaumnya yang tinggal di sebuah rumah kecil.

Sedangkan dokter Nasrani itu sendiri segera bangkit untuk membuktikan kebenaran ucapan pemuda fakir tersebut. Sang dokter Nasrani itu berangkat menuju ke tempat kediaman pemuda fakir beserta kaumnya, dan dia pun mengawasi perilaku pemuda itu dari sebuah tempat yang agak terlindung. Dilihatnya bahwa pemuda fakir itu masuk rumah dan meletakkan bahan makanan yang dibawanya, sekejap kemudian berkumpullah ulama sufi bersama orang-orang fakir sahabatnya.

Ketika mereka hendak menikmati makanan tersebut, tiba-tiba ulama sufi itu melarangnya, 'Sukakah kalian memakan makanan milik orang Nasrani yang diberikan kepada kalian tanpa ada suatu imbalan untuknya?' 'lmbalan apakah yang harus kami berikan?' tanya mereka serempak.

'Sebelum kita memakannya, kita harus mendoakannya agar dia diselamatkan dari api neraka,' demikian kata ulama itu. Akhimya mereka pun mendoakan si dokter Nasrani itu dan hal tersebut sempat didengar secara langsung oleh yang bersangkutan.

Melihat sekaligus mendengar perihal kelaparan di antara kaum fakir dan ulama tersebut, mendorong dokter Nasrani itu berkunjung menemui mereka. Maka, dokter itu pun mengetuk pintu rumah mereka, sebentar kemudian terbukalah pintu tersebut. Sang dokter segera masuk dan kemudian memotong keragu-raguannya seraya berkata, 'Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah)'."

Prof. David Benjamin Keldani (mantan Pendeta Katolik Roma Sekte Uniate Chaldean 1895)

Setelah masuk Islam, David Benjamin Keldani mengganti namanya menjadi ' Abdul Ahad Dawud. Dia adalah seorang pendeta Katolik Roma dari sekte Uniate-Khaldean. la lahir pada 1867 di Urmia, Persia; mengenyam pendidikan sejak kecil di kota itu. Dari 1886-89 (tiga tahun) ia menjadi staf pengajar Archbishop of Canterbury's Mission untuk Assyrian (Nestorian) Christians di Urmia.

Pada 1892 ia diutus oleh Kardinal Vaughan ke Roma, di sana ia mempelajari filsafat dan teologi pada Propaganda Fide College, dan pada 1895 dinobatkan sebagai Pendeta. Pad a 1892 Profesor Dawud menulis serangkaian artikel di The Tablet tentang "Assyria, Romawi, dan Canterbury"; dan juga pada Irish Record tentang "Keotentikan Pentateuch." (Lima kitab pertama dari Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan) . la mempunyai beberapa terjemahan Ave maria dalam bahasa berbeda-beda, yang diterbitkan di Illustrated Catholic Missions.

Ketika berada di Konstantinopel, dalam perjalanannya ke Persia pada 1895, ia menulis serangkaian artikel panjang tentang "Gereja-gereja Timur" dalam bahasa Inggris dan Perancis di surat kabar harian yang terbi t di sana dengan nama The Levant Herald. Pada 1895 ia bergabung dengan French Lazarist Mission di Urmia, dan terbit untuk pertama kali dalam sejarah Misi itu sebuah majalah berkala dalam bahasa daerah Syria yang bernama Qala-La-Syrini (Suara Kebenaran).

Pada 1897 ia diutus oleh dua Uskup Besar Uniate-Khaldean dari Urmia dan Salmas untuk mewakili Katolik Timur pada Kongres Ekaristik yang diselenggarakan di Paray-le-Monial, Perancis, di bawah pimpinan Kardinal Perraud-tentu saja ini adalah undangan resmi. Makalah yang dibacakan di Kongres oleh "Bapa Benjamin" disiarkan dalam Tawarikh Kongres Ekaristik tahun itu, yang disebut "Le Pellerin." Dalam makalah ini, Khaldean Arch-Priest (begitu gelar resminya) menyesalkan sistem pendidikan Katolik di kalangan Nestorian, dan meramalkan kemunculan yang sudah dekat dari para pendeta Rusia di Urmia.

Pada 1888 Bapa Benjamin kembali lagi ke Persia. Di kampung halamannya, Digala, sekitar satu mil dari kota, ia membuka sekolah gratis.

Tahun berikutnya ia dikirim oleh otoritas-otoritas Gereja untuk memimpin keuskupan Salmas, di mana konflik yang tajam dan berbau skandal antara Uskup Besar Uniate, Khudabash, dan para Bapa Lazarist yang sudah berlangsung lama telah mengancam terjadinya perpecahan.

Pada hari Tahun Baru 1900, Bapak Benjamin menyampaikan khotbahnya yang terakhir dan patut dikenang di hadapan banyak sekali jemaat, termasuk banyak orang Armenia yang non-Katolik dan lain-lainnya, di dalam Katedral Khorovabad St. George, Salmas. Pokok bahasan sang pengkhotbah adalah "Abad Baru dan Manusia Baru." la mengingatkan kepada fakta bahwa para Misionaris Nestorian, sebelum munculnya Islam, telah mengabarkan ajaran-ajaran Yesus (Kitab Injil) di seluruh Asia; bahwa mereka memiliki banyak lembaga di India (khususnya di Pantai Malabar), di Tartary, Cina, dan Mongolia; dan bahwa mereka menerjemahkan Kitab Injil ke dalam bahasa Turki Uighur dan bahasa-bahasa lainnya; bahwa Misi-misi Katolik, Amerika, dan Anglikan, meskipun mereka telah melakukan sedikit kebaikan untuk bangsa Assyro-Khaldean melalui pendidikan dasar, telah memecah bangsa itu-sudah sedikit-di Persia, Kurdistan, dan Mesopotamia menjadi banyak sekali sekte yang bermusuhan; dan bahwa upaya-upaya mereka ditakdirkan untuk menyebabkan keruntuhan yang terakhir. Konsekuensinya, ia menganjurkan kepada orang-orang pribumi untuk melakukan pengorbanan agar dapat berdiri di atas kaki mereka sendiri sebagai manusia sejati, dan tidak bergantung pada misi-misi asing, dan sebagainya.

Pada prinsipnya pendeta itu seratus persen benar; tapi ucapan-ucapannya menyinggung kepentingan para Misionaris Tuhan. Khotbah ini segera mendatangkan Delegasi Apostolik, Mgr. Lesne, dari Urmia ke Salmas. la tetap menjadi teman yang terakhir bagi Bapa Benjamin. Mereka berdua kembali ke Urmia.

Sebuah Misi Rusia baru sudah diadakan di Urmia sejak 1899.

Kaum Nestorian dengan antusias memeluk agama Tsar "suci" untuk seluruh Rusia!

Lima misi yang besar dan angkuh (Amerika, Anglikan, Perancis, Jerman, dan Rusia) disertai universitas-universitas mereka, pers yang didukung oleh kalangan agamawan yang kaya, para konsul dan dutabesar, berusaha keras mengajak sekitar seratus ribu orang Assyro-Khaldean untuk pindah dari bid'ah Nestorian ke salah satu dari lima bid'ah itu. Tetapi Misi Rusia segera melampaui Misi-misi lainnya, clan misi inilah yang pada 1915 mendorong atau memaksa bangsa Assyria dari Persia, dan juga suku-suku pegunungan Kurdistan, yang kemudian pindah ke dataran Salmas dan Urmia, untuk mengangkat senjata melawan pemerintah mereka masing-masing. Hasilnya adalah separuh pengikutnya lenyap dalam perang dan sisanya terusir dari kampung halaman mereka.

Pertanyaan besar yang sudah sejak lama berkecamuk dalam benak pendeta ini sekarang mendekati klimaknya: Apakah agama Kristen, dengan banyak sekali bentuk dan wamanya, dan dengan naskah-naskah sucinya yang tidak otentik, palsu, dan menyimpang, adalah Agama Tuhan yang sejati?

Pada musim panas 1900 ia pensiun dan tinggal di vila mungilnya di tengah-tengah kebun anggur dekat air mancur ChaliBoulaghi yang terkenal di Digala, dan di sana selama sebulan ia habiskan waktunya untuk sembahyang dan meditasi, membaca berulang-ulang naskah-naskah suci dalam teks-teks aslinya. Krisis pun berakhir dengan pengunduran resmi yang dikirimkan ke Uskup Agung Uniate, Urmia, dimana ia secara terbuka menjelaskan kepada Mar (Mgr.) Touma Audu mengenai alasan dia melepaskan fungsi-fungsi kependetaannya.

Segala upaya yang dilakukan oleh otoritas-otoritas kependetaan untuk membatalkan keputusannya sia-sia belaka. Tidak ada perselisihan atau permusuhan pribadi antara Bapa Benjamin dan para atasannya; semua itu hanyalah persoalan kesadaran.

Selama beberapa bulan Mr. Dawud-begitulah panggilannya sekarang dipekerjakan di Tibriz sebagai Inspektur di Kantor Pos dan Bea Cukai Persia di bawah para ahli Belgia. Kemudian ia ditugaskan sebagai guru dan penerjemah Putera Mahkota Muhammad ‘Ali Mirza.

Pada 1903 sekali lagi ia mengunjungi Inggris dan di sana bergabung dengan Komunitas Unitarian. Pada 1904 ia dikirim oleh British and Foreign Unitarian Association untuk menangani masalah pendidikan dan penerangan di tengah masyarakat desanya. Dalam perjalanan menuju Persia ia mengunjungi Konstantinopel; dan setelah mengadakan beberapa wawancara dengan Syeikhul Islam Jamaluddin Effendi dan beberapa ulama lainnya, ia memeluk agama Islam. Ia berkata : “Kepindahan saya ke Islam tak lain karena hidayah Alloh Yang Maha Kuasa. Tanpa bimbingan-Nya, semua pengetahuan, penelitian dan usaha usaha lain untuk menemukan kebenaran ini mungkin hanya menemukan kesesatan. Begitu saya mengakui keesaan Mutlak tuhan, maka Nabi Muhammad pun menjadi pola sikap dan perilaku saya”.

Dalam bukunya “Menguak Misteri Muhammad” (diterbitkan oleh PT. SAHARA Intisains) dari terjemahannya “Muhammad in the Bible”, ia mengatakan “Kepalsuan nabi-nabi sejati umat kristiani terbongkar bersama-sama ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan”. Buku ini mengajak siapa saja yang mau menggunakan nalarnya bersifat obyektif, bijak dan lapang dada menerima dan tunduk pada kebenaran, dan siap memberikan argumentasi bantahan yang tidak dikuasai fanatisme, subyektifitas dan emosi.

Sabtu, 13 Desember 2008

Perempuan Jerman berbondong bondong masuk Islam




















Perempuan Jerman Berbondong-Bondong Masuk Islam

Katagori : Muslim Convert News

Oleh : Redaksi 11 Apr 2008 - 2:30 pm

Jerman Bertabur Mualaf

Meski Islam dan umatnya kerap dilecehkan dan mendapat terror di berbgai tempat, namun cahaya kebenaran tidak pernah redup. Di Jerman, sebuah sensus menyebutkan bahwa Islam menyebar pesat.

Di jantung kota Jerman, orang berbondong-bondong masuk Islam setiap tahunnya. Hal ini memunculkan rasa khawatir sebagian orang bila Eropa dalam beberapa tahun ke depan berubah menjadi benua yang didominasi oleh kaum Muslimin. Menurut Laporan Lembaga Statistik Khusus umat Islam di Jerman, jumlah orang yang masuk Islam di Jerman bertambah dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006, jumlah mereka yang menyatakan diri masuk Islam sekitar 4.000-an orang, sementara di tahun 2005, hanya sekitar 1.000 orang saja. Menurut Direktur Lembaga, Salim

Abdullah, "Sedikitnya ada 18.000-an orang Jerman yang tercatat sudah masuk Islam." (watch Many German Women Turning to Islam )

Dalam penghitungan yang dilakukan lembaganya, di kota Sost Jerman, terdapat 1.240-an Muslim asli Jerman dari total 732 ribu orang Muslim dari berbagai latar belakang. "Kebanyakan para pemeluk Islam baru itu adalah kaum perempuan yang telah menetapkan diri masuk Islam, baik karena keyakinannya pribadi atau karena pernikahannya dengan sang suami yang beragama Islam, ujar Salim. "Ini bukan hal yang aneh, karena umumnya kaum Muslimah Jerman juga orang-orang terpelajar yang memiliki predikat ilmiah cukup tinggi dari berbagai lembaga pendidikan, " ujar Salim. Dalam sebuah penelitian, disebutkan bahwa 250 hingga 300 orang perempuan Jerman memeluk Islam setiap tahunnya. (na-str/islmtm/eramuslim)



Simak Pengakuan Kai Ali Rashid dan istrinya menjadi Katrin Aisha Lihr



Kelas menengah di Jerman ramai-ramai belajar Islam. Tak terpengaruh perang global melawan terorisme. "Angst-Ridden German Mencari Jawaban dan Menemukannya di dalam Quran." Demikian judul besar di Del Spiegel, harian terkemuka di Jerman, edisi 18 Januari 2007. Penulisnya, Lutz Ackermann, mengawalinya dengan mengisahkan pria perlente bernama Kai Luhr. Dengan bercelana jins dan jaket abu-abu bermerek, pria berwajah bersih tanpa kumis dan janggut ini memasuki gerbang Masjid Berlin. Ackermann mengira dia menuliskannya dengan kalimat "publik Jerman pasti menduga" Luhr adalah utusan pihak gereja untuk hadir dalam dialog lintas agama yang kerap digelar di masjid itu. Tapi, ups, dia salah. Luhr bergegas menanggalkan jaketnya, dan mengambil air wudlu. Dia merapatkan diri dengan barisan shalat -- di sebelahnya pria bertampang Timur Tengah dengan janggut dan jubah putihnya.

Dalam catatan Ackermann, Luhr melakukan 33 gerakan dalam ibadahnya hari itu. "Bahasa Arabnya sangat fasih ketika memanjatkan doa," tulisnya. Ia hanya mengucap satu kalimat dalam bahasa Jerman, "Alloh mendengar siapa yang memohon pada-Nya, kabulkan doaku ya Tuhanku."

Kai Luhr adalah seorang dokter. Ia dan istrinya menjadi Muslim sejak dua setengah tahun lalu. Seiring dengan pernyataan syahadatnya, ia mengganti namanya menjadi Kai Ali Rashid dan istrinya menjadi Katrin Aisha Lihr. Lelaki 43 tahun ini biasa mengikuti aktivitas keagamaan di sebuah masjid di Frechen, dekat Cologne. Di situ pula ia mengikrarkan Islam sebagai agama barunya. Bersama dengannya, seorang mantan petinju nasional Jerman dan seorang insinyur juga turut bersyahadat.

Saat dikuntit Del Spiegel, Luhr usai menunaikan sholat Jumat dan sholat sunah lain sebelumnya. "Anda akan menjumpai banyak Muslim kelahiran Jerman di beberapa masjid di Berlin pada hari ini," ujar Luhr.

Luhr besar dalam tradisi Kristen yang ketat. Namun ia beruntung, keluarga yang membaptisnya saat dia kanak-kanak itu adalah keluarga yang demokratis. "Tak ada masalah saya memeluk agama ini," ujarnya. Baginya, Islam adalah agama yang benar-benar baru. Ketika kecil hingga remaja, ia yang besar di lingkungan kelas menengah di Berlin, mengaku tidak pernah mengenal atau bahkan mendengar ada agama bernama Islam.

Persinggungan pertamanya dengan Islam adalah saat ia masuk universitas untuk belajar ilmu kedokteran. Beberapa rekan kuliahnya adalah Muslim. Namun saat itu ia belum tergerak mempelajari Islam. Usai kuliah, ia membuka praktik sambil mengambil spesialisasi pengobatan naturopatik di universitas yang sama. Saat penghasilannya mulai bagus, ia menikahi pacarnya, Katrin, seorang penari profesional.

Hingga suatu hari, kedua pasangan ini mengalami kegelisahan dalam hidupnya. Kejadian bermula saat suatu hari datang pasien dalam kondisi kritis ke ruang praktiknya, akibat terjatuh saat pemancangan sebuah pilar. "Tiba-tiba ada kekosongan dan keputusasaan dalam hidup kami," ujarnya.

Ia dan istrinya memutuskan untuk kembali menekuni agama yang telah lama ditinggalkannya, Kristen. Bahkan, pasangan ini pun mempelajari Buddhisme dan ajaran Dalai Lama. Tapi ia tak kunjung menemukan jawaban kegelisahannya.



Ingin tampil beda

Menurut laporan Ackermann, proses penjalanan batin seorang Mualaf di Jerman umumnya sama; mereka

adalah penganut Kristen, yang menemukan kebingungan tentang ajaran agamanya. Setelah mencari di banyak keyakinan, hati mereka tertambat pada Islam. "Memang ada beberapa ajaran yang membuat penganutnya malah jadi ragu dengan kebenaran ajaran itu," ujar Mohammed Herzog, imam di Masjid Berlin yang sebelumnya adalah seorang pendeta. Ia sendiri pernah mengalami kebuntuan pemikiran, sampai akhirnya menemukan Islam tahun 1979.

Ia mengakui, jumlah mualaf di Jerman kini berlipat. Satu dasawarsa lalu, jumlah mualaf baru di Masjid Berlin paling hanya 10 orang pertahun. "Kini jumlahnya lebih dari dua kali lipatnya," ujar Herzog. Sebagian penganut baru Islam adalah orang-orang seperti Luhr, dan sebagian lagi adalah ateis.






























Muhammed Herzog - Imam Mesjid Berlin



Sebuah kajian mengenai kehidupan Muslim di Jerman menunjukkan fenomena pindah agama di kalangan masyakarat kelas menengah Jerman yang angkanya cukup mencengangkan. Kendati media "rajin" memberitakan tentang terorisme yang dikaitkan dengan Islam, kekerasan dalam rumah tangga Muslim, dan bom bunuh diri, namun sedikitnya 4.000 warga negara Jerman menjadi Muslim antara bulan Juli 2004 hingga Juni 2005, saat penelitian dilakukan.

Penelitian yang didanai Kementerian Dalam Negeri Jerman ini menyebut, jumlah mualaf meningkat empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya. "Justru di saat kebencian di Barat terhadap Islam makin memuncak," tulis laporan itu. Mereka berislam atas kesadaran sendiri, dan sebagian besar mualaf adalah dari kalangan terpelajar. "Bila tiga tahun lalu kebanyakan converter adalah wanita

yang berpindah agama karena pernikahan, maka sekarang banyak juga kaum pria dari kalangan kelas menengah Jerman yang beralih menjadi Muslim" tulis laporan itu.

Penelitian Monika Wohlrab-Sahr

Hasil penelitian ini tak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Monika Wohlrab-Sahr, seorang sosiolog agama. Bedanya, dia tak hanya memotret fenomena ini di Jerman, tetapi juga Amerika Serikat. Di dua negara ini, Islam tumbuh dengan pesat justru setelah Tragedi 11 September.













Menurut pengamatan Wohlrab Sahr, para mualaf sebelum berislam umumnya mengalami "krisis personal" dan menemukan kedamaian justru dalam Islam, agama yang dicap banyak orang sebagai agama teroris. Motifasi lainnya adalah pencarian agama yang lebih "pas" buat dirinya. "Dia ingin beda dari yang lain," ujarnya.

Dalam opini Wohlrab-Sahr, meski Kristen juga menawarkan kedamaian batin, namun Islam lebih menarik sebagai jalan keluar dari keruwetan hidup. Hal ini ditunjang dengan media yang terus-menerus memperdebatkan tentang Muslim. "Islam menjadi makin menarik sebagai sebuah genuine alternative," tambah Wohlrab-Sahr.

Namun, alasan seseorang berislam tentu berbeda-beda, meski Wohlrab-Sahr bilang mirip. Salim Abdullah ia menolak menyebutkan nama aslinya menyatakan tertarik pada Islam karena ajaran ini paling jelas merinci tuntunan hidup bagi umatnya. Sedangkan Luhr yang selalu membawa sajadah di mobil Alfa Romeo GT terbarunya menyatakan, "Meski Islam dinilai mundur dari peradaban Barat, namun ajarannya tetap relevan hingga saat ini."



Islamic Fashion di Berlin

Bagaimana para Mualaf menyesuaikan diri dengan lingkungannya setelah menjadi Muslim? Dalam banyak hal, tak perlu disangkal, pasti terjadi benturan. Islam mempunyai banyak aturan yang bertentangan dengan budaya Barat. Sebut misalnya dalam penyikapan terhadap alkohol, seks bebas, dan ibadah yang dalam sehari sampai lima kali jumlahnya.

Namun Wohlrab-Sahr menyatakan tidak ada kendala yang berarti. "Tergantung bagaimana cara mereka menafsirkan ayat-ayat Alquran," ujarnya. Menurut dia, para mualaf ini tidak menunjukkan "kerepotan" harus beribadah lima kali sehari.

Beda dengan persepsinya bahwa busana untuk beribadah umat Islam sangat "ruwet" ia justru menemukan pada mualaf dengan gampang beribadah dengan memakai celana jins atau busana yang biasa mereka kenakan sehari-hari. "Bagi wanita, mereka hanya perlu menambahkannya dengan kaus kaki saja," ujarnya. Ia justru menyebut, Muslim yang dari lahir sudah berislam justru lebih liberal.

















Peragaan Busana di Jerman


































Di akhir laporannya, Ackmenn memotret fenomena seperti yang diceritakan Wohlrab-Sahr: "Suatu siang di sebuah kantor pengacara di Hamburg. Nils Bergner, pria berusia 36 tahun, menjaga shalatnya sebanyak lima waktu, kendati kesibukan kantor menyita waktunya. Di kantor itu, Bergner satu ruangan dengan rekannya, seorang Muslim asal Turki bernama Ali Ozkan. Mereka kerap pergi sholat Jumat ke masjid terdekat, namun di luar hari Jumat, Bergner lebih sering sholat seorang diri. "Urusan pekerjaan selalu menyita waktu saya," ujar Ozkan, "Sholat pertama pukul 06.00, ...itu terlalu pagi bukan?"


Cerita Ackmenn tak berhenti sampai di sini. Malam harinya, ia mengundang dua nara sumber Muslimnya itu untuk makan malam di sebuah rumah makan. Bergner menolak rumah makan pertama karena "menyajikan terlalu banyak bahan haram." Akhirnya mereka sepakat di sebuah rumah makan mentereng di pusat kota Berlin. Makanan utama telah habis dilahap, kemudian pelayan datang membawa desert berupa tiramisu. Bergner menolak. Alasannya, "Terima kasih. Dalam resepnya, memakai alkohol." Ozkan mulai tak sabar dengan ulah sahabatnya. "Ayolah, jangan terlalu serius," ujarnya sambil mengigit cake itu, "Makan saja, tidak apa-apa. Alkohol hanya digunakan sebagai aroma." Bergner mendelik. Dia tetap membiarkan tiramisunya tak tersentuh, sampai mereka keluar dari rumah makan itu... n tri/del spiegel
















Pengajar Muslim Komunitas Muslim di Jerman




Sebuah Masjid di Jerman


Pengakuan Kai Ali Rashid dan istrinya menjadi Katrin Aisha Lihr (youtube.com) 2008

Komunitas Islam di Berlin Baca :

- http://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_Germany

- http://islamineurope.blogspot.com/2007/01/germany-4000-converted-to-islam.html

- http://www.expatica.com/actual/article.asp?subchannel_id=26&story_id=34584

- http://www.amren.com/mtnews/archives/2007/01/immigration_and_4.php

- http://www.ewadah.com/2006/08/islam-grows-in-germany_07.html

- http://ummahnewslinks.com/2007/01/05/number-of-germans-embracing-islam-increasing-persistently--koehler.aspx